Mempersiapkan Diri Menyambut Ramadhan

Oleh: Luthfi Hidayat

Tamu akbar kita akan segera tiba: bulan dengan penuh berkah, rahmat dan maghfirah. Itulah bulan Ramadhan. Bulan ini penuh dengan keutamaan dalam setiap hari, malam, jam dan detiknya. Bulan ini sarat dengan pelipatgandaan pahala. Pada bulan ini pun Allah akan memberikan ampunan dan kesempatan bertobat seluas-luasnya bagi setiap insan.

Sikap Rasulullah dan Para Sahabat dalam Menyambut bulan Ramadhan

Rasul saw. dan para Sahabat ra. begitu bersemangat menyambut datangnya bulan Ramadhan. Anas bin Malik menuturkan bahwa Rasulullah saw., saat memasuki bulan Rajab, senantiasa berdoa, “Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya‘ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.” (HR at-Tirmidzi dan ad-Darimi).

Berbagai persiapan dilakukan untuk menyambut tamu yang paling istimewa ini. Persiapan ilmu dan mental adalah yang paling utama. Dalam hal mempersiapkan hati atau ruhiah, Rasulullah saw. mencontohkan kepada para Sahabat dengan memperbanyak puasa pada bulan Sya‘ban, sebagaimana yang diriwayatkan Aisyah ra., “Saya tidak melihat Rasulullah saw. menyempurnakan puasanya, kecuali pada bulan Ramadhan. Saya tidak melihat Rasul dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya‘ban” (HR Muslim).

Bulan Sya‘ban adalah bulan saat amal salih diangkat ke langit.

Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah saw, saya tidak melihat engkau puasa pada suatu bulan lebih banyak melebihi bulan Sya‘ban.” Rasul saw. bersabda, “Bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan diangkatnya amal-amal kepada Tuhan alam semesta. Karena itu, saya suka amal saya diangkat sedangkan saya dalam kondisi berpuasa. (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ibnu Huzaimah).

Sebelum Ramadhan tiba, Rasulllah saw. senantiasa menyampaikan khutbahnya agar para Sahabat benar-benar mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan agung ini. Berbagai keutamaan Ramadhan diuraikan oleh Baginda Rasul agar tidak ada hari, jam, menit, dan detik terlewatkan begitu saja tanpa ibadah kepada Allah Swt.1 Pada bulan ini nafas-nafas menjadi tasbih, tidur menjadi ibadah, amal-amal diterima, dan doa-doa dikabulkan.

Dalam khutbahnya Nabi saw. juga mengingatkan kita untuk senantiasa bermohon kepada Allah dan melaksanakan berbagai amal baik:

Bermohonlah kalian kepada Allah, Tuhan kalin, dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbing kalian untuk melakukan shaum dan membaca Kitab-Nya. Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah pada bulan yang agung ini. Kenanglah, dengan rasa lapar dan haus kalian, kelaparan dan kehausan pada Hari Kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fakir dan miskin. Muliakanlah orangtua-orangtua kalian, sayangilah yang muda, sambunglah tali persudaraan kalian, jagalah lidah kalian, tahanlah pandangan kalian dari apa yang tidak halal kalian pandang, dan peliharalah pendengaran kalian dari apa yang tidak halal kalian dengarkan...

Kasihanilah oleh kalian anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatim kalian. Bertobatlah kepada Allah dari dosa-dosa kalian. Angkatlah tangan-tangan kalian untuk berdoa pada waktu shalat kalian karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah ‘Azza wa Jalla memandang hamba-hambanya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya, dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya...

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-diri kalian tergadai karena amal-amal kalian. Karena itu, bebaskanlah dengan istigfar. Punggung-punggung kalian berat karena beban (dosa) kalian. Karena itu, ringankanlah dengan memperpanjang sujud kalian.

Lalu Ali bin Abi Thalib kw. berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama pada bulan ini?” Jawab Nabi saw., “Ya Abu Hasan! Amal yang paling utama pada bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah.”

Hukum-hukum Penting Seputar Shaum

Walaupun shaum bagi kaum Muslim bukan hal yang baru, pengetahuan tentang hukum-hukum penting seputar shaum ada baiknya kita segarkan kembali. Apalagi ibadah ini adalah ibadah khusus dengan pahala yang juga khusus dari Allah Swt. Beberapa hukum penting seputar shaum antara lain adalah: Pertama, wajib hukumnya shaum bagi setiap Mukmin, lelaki maupun wanita, yang sudah balig/dewasa dan sehat akal/sadar2 berdasarkan QS al-Baqarah [2]: 183.

Kedua, haram hukumnya bagi wanita yang sedang haid melaksanakan shaum sampai habis masa haidnya. Di luar Ramadhan ia wajib meng-qadhâ’ shaum yang ditinggalkannya selama dalam masa haid. Aisyah ra. berkata, “Saat kami haid pada masa Rasulullah saw., kami dilarang shaum dan diperintahkan meng-qadhâ’-nya, dan kami tidak diperintah untuk meng-qadhâ’ shalat.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Ketiga, adanya kelonggaran (mubah) untuk tidak melaksanakan shaum Ramadhan dan wajib meng-qadhâ’-nya pada bulan lain bagi orang yang sedang sakit dan yang sedang bepergian (musafir).3 Musafir yang merasa kuat boleh melanjutkan shaum dalam perjalanannya.

Adapun mereka yang sudah tua dan lemah, wanita yang sedang menyusui dan khawatir akan kesehatan anaknya, wanita yang hamil dan khawatir akan kesehatan diri dan janin yang dikandungnya, sakit menahun yang sulit diharapkan untuk sembuh diberi kelonggaran untuk tidak mengerjakan shaum dan tidak wajib meng-qadhâ’, tetapi wajib mengeluarkan fidyah (memberi makan sehari seorang miskin).4

Keempat, ada beberapa hal yang membatalkan puasa seperti sengaja makan dan minum pada siang hari5, sengaja membikin muntah,6 sengaja berhubungan dengan istri pada siang hari7, dan datang bulan pada siang hari bagi seorang wanita.8

Kelima, ada beberapa hal yang boleh dikerjakan pada waktu shaum seperti mencicipi makanan pada siang hari (asal jangan ditelan), ber-istinsyak (menghirup air ke dalam hidung) terutama jika akan berwudhu (asal tidak dikuatkan menghirupnya), berbekam, mengakhirkan mandi junub setelah azan shubuh, dan menyiram air ke atas kepala pada siang hari karena haus ataupun udara panas, demikian pula menyelam ke dalam air pada siang hari (asal jangan sambil minum).

Amalan-amalan Penting pada bulan Ramadhan

Pertama: Shaum. Amalan utama dan yang terpenting dalam bulan Ramadhan adalah shaum (puasa) itu sendiri. Dalam pelaksanaannya, shaum harus benar-benar kita lakukan dengan penuh keimanan dan ketakwaan,9 memperhatikan hal-hal yang dapat membatalkan puasa maupun pahala puasa seperti berbohong dan ghîbah (membicarakan orang lain).10 Shaum yang kita lakukan juga jangan sampai cacat tanpa udzur syar‘i.11 Jangan lupa makan sahur karena di dalamnya penuh dengan keberkahan, serta segera berbuka (ifthâr) ketika waktunya telah tiba. Dalam menjalankan shaum ini, jangan lupa kita senantiasa banyak istigfar dan memanjatkan doa kepada Allah.12

Kedua: Membayar zakat fitrah. Pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan, amaliah yang dilaksanakan oleh Rasulullah saw. ialah membayarkan zakat fitrah. Membayar zakat ini merupakan suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh umat Islam baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak (HR al-Bukhari dan Muslim). Zakat fitrah ini juga berfungsi sebagai pelengkap penyucian untuk pelaku puasa dan untuk membantu kaum fakir miskin. (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Ketiga: Tilâwah, tadârus al-Qur’ân, dan shalat tarawih. Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw., yang dimaksud dengan tilâwah di sini adalah membaca al-Quran dari awal hingga khatam, selanjutnya mengulangnya kembali. Diriwayatkan, Imam Syafii sedikitnya 60 kali mengkhatamkan al-Quran selama bulan Ramadhan.

Adapun tadârus al-Qur’ân artinya membaca al-Quran serta mengkaji arti dan mendalami maknanya menurut penjelasan para mufassir. Kita bisa mengambil beberapa tafsir yang mu’tabar seperti Jalâlayn dan Tafsîr Ibnu Katsîr. Juga jangan lupa kita mengkaji berbagai rangkaian tafsir al-Quran kontemporer dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, sosial dan lain sebagainya. Baik juga untuk mengkaji dan memperdalam buku-buku semisal Ahkâm al-Shulthaniyyah karya Imam al-Mawardi; Nizhâm al-Hukmi atau Nizhâm al-Iqtishâdi karya an-Nabhani; tafsir kontemporer seperti Tafsîr fî Zhilâl al-Qur’ân karya Sayyid Quthb dan Shafwah at-Tafâsîr karya Ali ash-Shabuni. Dengan membaca karya-karya seperti ini, gambaran umum tentang Islam sebagai suatu peradaban (hadharah) yang utuh dan menyeluruh dapat semakin mengkristal dalam benak selama bulan Ramadhan ini.

Sementara itu, pada malam harinya jangan lupa bersama-sama melaksanakan shalat tarawih atau qiyâm al-layl. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa siapa saja yang melaksanakan ibadah malam (qiyâm al-layl) dengan penuh keimanan dan pengharapan hanya kepada Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat.

Keempat: I’tikaf dan umrah. Di antara amalan sunnah yang senantiasa dilakukan Rasulullah saw. pada bulan Ramadhan adalah i’tikaf, yakni bediam diri di dalam masjid pada masa tertentu dengan adab-adab tertentu dan diniatkan untuk beribadah kepada Allah Swt. Disunnahkan agar orang yang i’tikaf memperbanyak ibadah dan taqarrub kepada Allah Swt., seperti shalat, membaca al-Quran, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istigfar, shalawat kepada Nabi saw., berdoa, dan sebagainya. Tradisi i’tikaf ini merupakan kebiasaan Rasululullah saw. saat Beliau di Madinah hingga wafatnya.

Adapun umrah adalah ibadah sunnah yang sangat baik dilakukan pada bulan Ramadhan. Nilai ibadahnya akan berlipat ganda sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. “Agar jika datang bulan Ramadhan, ia melakukan umrah, karena nilainya setara dengan haji bersama Rasulullah saw.(HR al-Bukhari Muslim).

Selain rangkaian ibadah di atas, tentu kita tidak meninggalkan ibadah pokok seperti shalat lima waktu, berdakwah, serta jihad fi sabilillah bagi kaum Muslim yang sekarang berada di medan perang.

Kualitas Shaum Rasulullah dan Para Sahabat

Dengan persiapan yang matang, kualitas shaum Rasulullah dan para Sahabat menjadi luar biasa. Rasulullah saw. dan para Sahabat menjalani ibadah shaum tidak sekadar menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan berhubungan suami istri. Beliau dan para Sahabat bahkan sering menjalani shaum berbarengan dengan aktivitas tertinggi dalam ibadah, yakni jihad fi sabilillah.

Sejarah telah mencatatat bahwa berbagai peperangan terjadi pada bulan Ramadhan. Perang Badar al-Kubra terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 H. Shaum yang sedang mereka lakukan benar-benar menjadi kekuatan ruhiah yang jauh melebihi kekuatan fisik. Dengan pertolongan Allah kaum Muslim berhasil memukul mundur pasukan Quraisy meski secara fisik dan material mereka lebih kuat.

Fath al-Makkah (Pembebasan Kota Makkah) oleh sedikitnya 10 ribu kaum Muslim juga terjadi pada bulan Ramadhan. Demikian pula penaklukan Andalusia—Spanyol dan Portugis—oleh pasukan kaum Muslim pimpinan Tariq bin Ziyad yang menandai peranan dan peradaban Islam terhadap kebangkitan dan pencerahan (Renaissance) bangsa-bangsa Eropa. Pembebasan Palestina oleh Shalahuddin Al-Ayyubi dan Perang Ain Jalut saat kaum Muslim menaklukkan tentara Mongol juga terjadi pada bulan Ramadhan.

Rasulullah saw. mengabarkan bahwa orang yang berpuasa dalam keadaan jihad fi sabilillah pasti dijauhkan dari api neraka sejauh-jauhnya. Beliau bersabda (yang artinya), “Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari dalam jihad fisabilillah melainkan pada hari itu Allah menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh perjalanan 70 tahun.” (HR al-Bukhari, Muslim, dan at-Tirmidzi).

Sungguh berbahagia saat ini bagi kaum Muslim yang melewati shaumnya nanti dengan melakukan jihad melawan musuh-musuh Islam AS dan Israel. Pahala syahid mereka akan dilipatgandakan dengan 70 kali lipat dibandingkan dengan pada bulan lain. Wajah mereka juga akan dijauhkan dari api neraka sejauh perjalanan 70 tahun. Allah akan menukar pahala mereka dengan surga. 13 Allâhu akbar!

Setelah berjuang keras bak singa pada siang hari, malam harinya Rasul dan para Sahabat melakukan qiyâm al-layl, shalat tarawih berjamaah dengan penuh kekhusyukan. Khalifah Umar menyatukan shalat tarawih para Sahabat dan memerintahkan Ubay bin Kaab menjadi imam. Dikisahkan bahwa dalam tiap rakaat, Ubay membaca sekitar 100 sampai 200 ayat setelah al-Fatihah. Setiap selesai dua rakaat biasanya mereka beristirahat santai dulu (karenanya istilah qiyâm al-layl ini sering disebut dengan shalat tarawih). Mereka menghabiskan waktu 2 sampai 3 jam setiap malam untuk ber-taqarrub kepada Allah Swt. dengan shalat tarawih.

Apalagi pada malam-malam terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah saw. senantiasa menghidupkan malamnya dengan membangunkan sanak-saudaranya. Aisyah ra. menuturkan bahwa sesungguhnya Nabi saw., jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, benar-benar menghidupkan malam (untuk beribadah) dan membangunkan istrinya (agar beribadah) dengan mengencangkan ikatan sarungnya (tidak mengumpuli istrinya). (HR al-Bukhari dan Muslim).

Alhasil, dengan persiapan yang matang dari sisi mental, fisik, dan program yang dijalankan dengan disiplin, insya Allah, Ramadhan yang akan kita lalui nanti akan lebih berkualitas dan benar-benar menjadi investasi berbagai kebaikan. Dengan itu, kebersihan jiwa dan ketakwaan optimal semoga dapat kita raih. Amin.

Catatan Kaki:
1 HR Ibnu Huzaimah.
2 HR Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi.
3 QS al-Baqarah [2]:185); HR Muslim.
4 Ucapan Ibnu Abbas: Wanita hamil dan wanita menyusui, jika khawatir atas kesehatan anak-anak mereka, boleh tidak shaum dan cukup membayar fidyah (memberi makan orang miskin). (Riwayat Abu Dawud).
5 HR Jamaah, kecuali an-Nasa’i.
6 HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi.
7 HR al-Bukhari dan Muslim.
8 HR al-Bukhari dan Muslim.
9 HR al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud.
10 Lihat: HR Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah; HR al-Bukhari, dan Muslim; dan HR Ahmad.
11 HR at-Titrmidzi.
12 HR Ahmad dan at-Tirmidzi.
13 QS at-Taubah [9]: 111.

Raih amal shalih, sebarkan informasi ini.... Bookmark and Share
Pre Order Kaos ICMS [Ada 9 Desain Kaos] Qudwah Ngaji di Hizbut Tahrir

Artikel Terkait lainnya






0 komentar

Tinggalkan Komentar