Hasyim Muzadi : Ancaman Cina Komunis dan Liberalis Terhadap Islam

Untuk menghadapi Islam, neo-komunisme dan liberalisme yang dulu berhadap-hadapan, kini bersatu padu. Kekuatan neo-komunisme dan liberalisme bergandeng tangan menghadapi Islam, yang dianggap mereka sebagai ancaman.


Perlu diketahui, neo komunisme itu paling lihai dan jitu dalam membuat strategi. Sebagai contoh, mereka suka menguak luka lama, berupaya membersihkan diri dari kesalahan, lalu melempar kesalahan kepada pihak lain.

Demikian dikatakan Ketua ICIS (International Conference of Islamic Scholars) KH. Hasyim Muzadi ketika beraudiens dengan Jurnalis Islam Bersatu (JITU di kantor ICIS, Jl. Dempo, Matraman, Jakarta.

“Sekalipun  komunis internasional berubah, namun yang lokal belum berubah. Kini neo komunis banyak yang jadi pejabat, bahkan di DPR. Mereka itu militan. Manuver yang mereka lakukan sangat berbahaya,” ungkap kiai.

Lebih jauh Ketua Umum ICIS itu menjelaskan, pada tahun 1990-an, pasca perang dingin yang dimotori oleh AS dan Rusia, menyebabkan runtuhnya komunisme dan proletarisme (sama rasa sama rata), yang kemudian diganti dengan kebebasan beragama.

“Namun, sebenarnya kemenangan Barat melawan Timur itu belum tentu kemenangan yang sesungguhnya. Karena saat ini Barat menjadi miskin pelan-pelan, dikarenakan kerusakan ekonomi kapitalismenya. Cina pun mulai menguasai perekonomian dunia.  Setelah Marxisme dikalahkan, kapitalisme mulai rontok, dari Eropa hingga AS. Kini pertarungan selanjutnya, diarahkan ke dunia Islam,” kata kiai.

Apalagi, sekarasng Cina daratan dan Cina perantauan (Chineses Oversease), yang sekarang kekuatan ekonominya sudah sangat besar, dan di Indonesia sudah menguasai jaringan ekonomi sudah sampai ke desa-desa, lewat jaringan bisnis, seperti Alfamart dan Indomart, sudah menjadi ancaman yang sangat nyata bagi masa depan Indonesia. Ini menjadi ancaman yang sangat nyata-nyata bagi masa depan bangsa Indonesia.

Class of Civilization
Selanjutnya, Ketika ada teori class of civilization (benturan peradaban Islam dan Barat) --dikemukakan oleh Samuel Huntington -- KH. Hasyim justru menyebutnya sebagai class of interest (benturan kepentingan).  

“Ingat, saat terjadi 11/9 tahun 2001, Presiden AS George Bush pernah membentuk pasukan elit al-Qaeda untuk menghadapi Soviet. Pasca runtuhnya Soviet, AS tak ingin Al Qaeda menjadi  kekuatan.

Bukan hanya  itu, AS juga tak ingin Irak yang dipimpin oleh Syiah  bergabung dengan Iran, yang dikhawatirkan menjadi kekuatan yang besar. Strategi AS selanjutnya, kini tidak lagi mengerahkan serangan militer, tapi menggunakan cara-cara infiltrasi,”jelas Kiai.

Sebagai contoh, pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Timur Tengah telah disupport oleh Barat, hingga jatuhlah Tunisia, Mesir, Libya. Kini, Yaman mulai digoyang, begitu juga Suria. Tapi yang terjadi, pergolakan di negara-negara Arab (Arab Spring), sekarang dipimpin oleh sistem yang Islami.

 Ikhwanul muslimin di Mesir yang tak pernah berkuasa, kini berkuasa. Sedang Suria masih tarik menarik, dimana AS tidak berani masuk melakukan serangan langsung, karena terlalu banyak faks-faksi di negara tersebut.
 
“AS khawatir, jika dikerahkan kekuatan militer, faksi-faksi itu bersatu. Sehingga AS merasa nyaman menggunakan tangan lain dari negara lain untuk menggoyang Suria, seperti Turki dan Saudi.”

KH. Hasyim Muzadi berpandangan, tidak tertutup kemungkinan gerakan inflitrasi ini akan masuk ke Indonesia. Indikasi itu sudah terlihat ketika Indonesia berubah menjadi negara yang menerapkan demokrasi liberal.

Serangan yang dilakukan tentu tidak dilakukan seperti di negara-negara  diktator. Mereka berselancar dengan sistem dan kondisi yang ada sambil menciptakan friksi-friksi.

Serangan Budaya
Selain serangan militer, infiltrasi, Barat juga melakukan serangan budaya dan pendidikan atas nama gerakan intelektual. Sosok Irshad Manji dan Lady Gaga yang mengkampanyekan nikah sejenis, adalah serangan yang dilakukan Barat. Tapi,anehnya pemikiran Manji oleh kaum liberal diterima sebagai gerakan intelektual, padahal jelas-jelas merusak dan melawan kodrat.

KH. Hasyim pernah ditanya, kenapa ia tidak setuju dengan pernikahan sejenis? Lalu dijawab, karena pernikahan sejenis sama saja kembali ke zaman batu. Anehnya, pernikahan sejenis dianggap sesuatu yang modern.  “Itulah kenapa Negara sekuler tidak bisa menangkap orang yang jelas-jelas menghina agama, dengan dalih kebebasan berpendapat.”

Seperti diketahui, disaat Islam dilecehkan dan Nabi Saw dihina, kaum liberal kerap melontarkan slogan “Islam, Allah dan Nabi tak perlu dibela”. Tapi, kata KH. Hasyim, umat Islam tak boleh diam menghadapi perkara nahi munkar.

Tapi, tentu saja, ijtihad yang dilakukan, harus dengan cara yang ahsan (baik). Argumentasi harus dilawan argumentasi. Dan umat Islam harus mengungguli argumentasi musuh Islam.

“Musuh Islam itu seperti menunggu kita untuk melakukan pelanggaran HAM besar, sehingga punya alasan untuk melakukan invansi. Ketika tentara Indonesia menghadapi gerakan separatis di Papua, umpamanya, tentara kita diberangkatkan ke sana, tapi tidak boleh menembak.

Tapi kalau tentara ditembak tidak dibilang pelanggaran HAM. Barat mengemas persoalan HAM menurut kacamata mereka sendiri secara sepihak. Jebakan-jebakan inilah yang harus diketahui.”

Bicara soal HAM, KH. Hasyim Muzadi sering ditanya tentang FPI (Front Pembela Islam) ketika ke luar negeri. “Ternyata FPI itu adalah organisasi Islam yang paling terkenal di dunia. Setiap kali ke luar negeri, saya selalu ditanya tentang aksi-aksi FPI.

Ini bukti, Barat sengaja menciptakan stigma-stigma. Ketika umat Islam masuk dalam jebakannya, mereka menunggu kita melakukan pelanggaran HAM berat untuk dijadikan alasan melakukan invansi,” kata kiai menekankan. [voa-islam/www.al-khilafah.org]

Raih amal shalih, sebarkan informasi ini.... Bookmark and Share
Qudwah Ngaji di Hizbut Tahrir

Artikel Terkait lainnya






0 komentar

Tinggalkan Komentar